fbpx
reward untuk anak yang berpuasa
Family & Parenting

Reward untuk Anak yang Berpuasa Sebulan Penuh

Alhamdulillah sebentar lagi bulan suci Ramadhan akan tiba. Insya Allah akan menjadi tahun ketiga Hammam belajar berpuasa. Tahun pertama puasanya baru setengah hari, kadang puasa kadang juga nggak tahan jam 11 sudah lemas kelaparan, katanya. Haha. Tahun kedua atau tepatnya di tahun lalu, alhamdulillah puasanya sudah full seharian dan nggak nyangka juga sih dia sudah bisa kuat sampai sebulan penuh. Dan tahun ini insya Allah, katanya mau puasa full lagi. Nah, banyak nih yang tanya bagaimana cara melatih anak puasa? Dan kira-kira apa, ya, reward untuk anak yang berpuasa sebulan penuh?

Puasa di bulan Ramadhan merupakan kewajiban yang harus ditunaikan oleh setiap muslim, karena puasa juga merupakan rukun islam yang kedua. Seperti dalam surat Al-Baqarah ayat 183 yang artinya “Hai orang-orang yang beriman diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana telah diwajibkan kepada orang-orang sebelum kamu supaya kamu bertaqwa.” Memang, orang-orang beriman yang di maksud di sini nggak termasuk anak-anak. Tetapi supaya anak kelak bisa menjalankan kewajibannya dengan baik, tentu harus sudah dilatih sedari dini.

Anak Belajar Puasa

Ketika anak usia balita, kita sudah bisa lho mengenalkan puasa kepada anak. Tentu bukan serta merta mengajak anak untuk berpuasa setengah hari, ya. Kita bisa memperlihatkan bahwa sedang berpuasa, memberi tahu saat puasa tidak boleh makan dan minum, ajak anak makan bersama saat berbuka puasa atau bagus juga kalau anak mau ikutan sahur. Selengkapnya bisa baca di tulisan saya yang berjudul Mengenalkan Puasa kepada Si Buah Hati.

reward untuk anak yang berpuasa

Saat belajar puasa tahun lalu, bukannya sama sekali dia nggak pernah minta batal puasa. Ada beberapa kali Hammam minta berbuka sebelum waktunya. Katanya “Hammam sudah bergetar, Mih.” Maksudnya badannya gemetaran karena menahan lapar. Ya ampun, kasihan kalau ingat. Tapi itu waktunya sudah sore banget, hampir maghrib. Sajian berbuka puasa pun sudah siap semua, benar-benar tinggal menunggu sesaat lagi untuk bisa mengisi perut.

Anak yang nggak tahan mau berbuka, tapi kok saya yang merasa sayang, ya. “Iiih, dikit lagi koook.” gitu, lho. Lalu saya bilang “Nggak apa-apa, nih, puasanya nggak jadi full sebulan? Apa nggak sayang, sudah puasa dari pagi tapi nggak bisa nunggu belasan menit aja?” Akhirnya puasa pun berlanjut. Tapi saya masih deg-degan, itu namanya maksain kehendak nggak, sih? Haha.

Yang pasti setelah itu jadi ada evaluasi, kenapa kok bisa nggak kuat? Apakah makan sahurnya nggak cukup? Atau terlalu lelah bermain sepanjang hari? Besoknya jadi sama-sama aware supaya hal ini nggak terulang lagi. Makan sahurnya harus cukup, kalau perlu masakin yang dia suka banget biar makannya semangat. Dan selalu ingatkan untuk hemat energi selama berpuasa. Aktif boleh, tapi jangan berlebihan.

Tradisi Memberikan Reward untuk Anak yang Berpuasa

Waktu kita kecil pasti ada yang pernah akrab dengan hadiah berpuasa, apalagi sampai sebulan penuh. Kalaupun Buibu nggak termasuk yang mendapatkan “hadiah puasa”, setidaknya ada sepupu atau tetangga yang begini, kan?

Setelah punya anak, barulah saya tahu itu namanya reward untuk anak yang berpuasa. Reward adalah sesuatu yang diberikan setelah seseorang berusaha. Ya tentu, dong, puasa itu usahanya berat banget. Anak harus nahan lapar dan haus sepanjang siang, disuruh jaga emosi dan lain-lain. Wajar, dong, kalau kemudian orang tua ingin memberikan sesuatu atas usahanya anak-anak. Namanya juga anak sendiri, namanya juga sayang, dan seterusnya.

Tradisi reward berpuasa belum pernah kami berlakukan untuk Hammam, karena dia masih baru-baru ini belajar puasa dan anaknya lempeng saja, nggak ada minta apa pun. Selain itu saya juga masih ragu, apakah reward untuk anak yang berpuasa memang baik dilakukan? Akhirnya saya cari-cari referensi dari psikolog anak.

Di sebuah video yang diposting oleh Mommiesdaily, Psikolog Anak dan Remaja Vera Itabiliana Hadiwidjojo, P. Si mengatakan, salah satu kesalahan pengasuhan yang sering kali dilakukan orang tua adalah “terlalu banyak motivasi eksternal”, yaitu motivasi yang sering kali dikaitkan dengan materi.

Reward adalah pemberian yang sifatnya keinginan, bukan kebutuhan utama. Misalnya kalau sepatu sekolah anak sudah rusak atau sempit lalu anak minta beli yang baru, itu kan kebutuhan ya. Tapi kalau sudah punya sepatu buat sekolah, lalu minta lagi sepatu untuk ke mall, untuk jalan-jalan dan untuk ini dan itu, barulah ini namanya keinginan. Dan untuk mendapatkannya harus ada effort, misalnya dengan menabung.

Ibu Vera juga menyampaikan bahwa orang tua boleh saja memberikan reward sebagai motivasi, tetapi berikan atas dasar usahanya, bukan karena hasilnya semata. Imbangi dengan motivasi internal, motivasi yang tumbuh di dalam dirinya. Sehingga pada saatnya nanti anak sudah nggak perlu motivasi eksternal lagi, karena sudah paham akan kewajiban dan tanggung jawabnya.

reward untuk anak yang berpuasa

Penjelasan dari Ibu Vera ini lebih general ya soal reward, bisa berlaku untuk hal apa pun, bukan hanya untuk anak yang berpuasa.

Reward yang Natural, Seperti Apa?

Sementara reward untuk anak yang berpuasa secara spesifik saya tanyakan ke Ibu Firesta Farizal, M. Psi Psikolog Anak dari Klinik Mentari Anakku, atau saya biasa panggilnya Bu Etha.

Nggak ada salahnya memberikan reward kepada anak karena telah berpuasa. Tetapi, belajar berpuasa tujuan sebenarnya adalah membangun kebiasaan yang baik. Jadi akan lebih bijaksana kalau selama prosesnya orang tua nggak menjanjikan reward ke anak. Tentu kita maunya anak bisa berpuasa tanpa mengharapkan hadiah dari orang tua, ya. Karena itu akan mempersempit makna puasanya itu sendiri.

Senada dengan pendapatnya Ibu Vera, Bu Etha juga mengajak orang tua untuk fokus pada prosesnya selama anak belajar berpuasa. Biarkan anak mencobanya pelan-pelan, namanya juga latihan. Mau puasanya 3 atau 4 jam sehari, mau sampai waktu zuhur, atau setelah itu mau lanjut lagi sampai maghrib.

Memberikan penghargaan atas apa yang telah anak-anak lakukan, kita bisa membangun reward yang sifatnya natural. Misalnya, merencanakan menu untuk berbuka puasa, menyiapkan makanan di sore hari atau makan bersama nanti malam. Memberi reward sekaligus family time, yang mungkin di hari-hari biasa jarang kita lakukan.

reward untuk anak yang berpuasa

Kalau menurut Buibu itu terlalu biasa, dicoba dulu deh, Bu. Karena anak-anak itu biasanya senang kalau dilibatkan dalam kegiatan orang tuanya. Apalagi kalau kita mau menyempatkan diri untuk menyiapkan makanan kesukaan anak-anak. Mereka pasti semangat, lagi puasa terus ngebayangin nanti maghrib bisa makan itu (eeh, ini mah hukumnya jadi makruh, ya?).

Namanya juga penghargaan, ya. Bentuknya nggak harus selalu dalam wujud materi. Pujian, pelukan, dan perhatian juga sebuah pemberian yang justru terasa lebih indah. Bayangkan Buibu bisa membangun suasana positif, mengajarkan rasa syukur betapa nikmatnya bisa makan dan minum setelah seharian menahan lapar dan dahaga. Kita tunjukkan kalau kita pun senang dan bangga sekali kepada anak karena mau berproses setiap hari.

Memberikan reward atau nggak, mungkin bisa tergantung pada value keluarga masing-masing, ya. Yang penting kita tetap mengarahkan anak-anak untuk melakukan sesuatu sesuai dengan prioritas dan kewajibannya. Karena bagi muslim, puasa di bulan Ramadhan merupakan ibadah yang wajib dilakukan sepanjang kita hidup.

Semoga Allah SWT memudahkan jalan kita dalam mendampingi anak-anak yang ingin belajar berpuasa, ya. Dan dilancarkan juga puasa kita tahun ini. Mohon maaf lahir batin, ya, Buibu semuanya.

Author

dzul_rahmat@yahoo.com
Mindful Parenting Blogger || dzul.rahmat@gmail.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *