Kembali Bersemi di Usia 40, Setelah Satu Dekade Menepi
Hi, this is the new me, yang kembali bersemi di usia 40 tahun. Aku adalah seorang istri dan ibu satu anak, yang kembali bekerja setelah 10 tahun hiatus.
Awal mulanya…
Ada sebuah iklan lowongan kerja freelance, yang aku dapat dari kenalanku. Perusahaan ini bergerak di bidang riset pasar. Lowongan tersebut mencari tim untuk mengumpulkan data di lapangan atau survei. Aku coba lah apply posisi tersebut karena kondisi saat itu memang lagi mencari cara untuk dapat penghasilan tambahan yang lumayan stabil. Walaupun aku sebenarnya nggak familiar dengan industri riset pasar.
Satu bulan, dua bulan, lamaranku tak kunjung diterima tapi di bulan ketiga akhirnya aku mendapatkan panggilan itu. Aku mengikuti wawancara online dan dinyatakan lolos seleksi, kemudian bergabung bersama sekitar 12 orang lainnya untuk menjadi Field Agent, sebuah posisi yang katanya menjadi ujung tombak dari sebuat keberhasilan studi riset.
Saat menjalani training selama 3 minggu, rasanya masih blur, apakah aku bisa menjalankannya? Apakah aku cocok dengan pekerjaan ini? Meskipun senior-seniorku men-training dengan sangat baik sampai aku paham, aku masih mikir, “Ya udah kalau nanti rasanya terlalu sulit buatku, aku resign aja. Toh ini juga cuma kerjaan freelance.” Terdengar meremehkan? Iya, ternyata aku terlalu meremehkan kemampuanku.
Karena ternyata apa yang bisa kulewati sungguh di luar ekspektasi.
Saat datang tawaran project pertama, aku langsung memberanikan diri untuk mencoba. Waktu itu kesempatannya hanya untuk beberapa ‘anak baru’, siapa cepat dia dapat. Aku dengan kesadaran penuh mengajukan diri. Tugas pertamaku adalah membantu responden mengerjakan online diary. Responden diminta untuk menceritakan kesehariannya dan aku meng-compile jawaban-jawaban ke slides. Pekerjaan yang menyanangkan.
Selanjutnya datang tawaran project lain dan di sinilah aku mulai pusing. Karena benar-benar harus mengumpulkan data, dan menemukan responden yang paling sesuai dengan kriteria riset. Jujur, suliiiiit. Dan merasa aku nggak cocok deh sama pekerjaan ini. Tapi aku memutuskan untuk bertahan, setidaknya sampai project ini selesai. Aku cukup stress dan ingin project tersebut segera berakhir. Tahu apa yang terjadi? Project-nya selesai tepat waktu.
Aku merasakan sebuah sensasi yang asing. Antara nggak nyangka, terharu, lega, bangga, bersyukur, dan apa lagi, ya? Pokoknya itu adalah sebuah momen yang harus ditulis dengan huruf besar semua dan beberapa tanda seru, “AKHIRNYA!!!”
Setelah libur seminggu, aku menantang diriku untuk mengambil project lainnya. Kesulitan itu berulang, tidak ada yang benar-benar mudah. Tapi lagi, aku bisa melaluinya. Setelah itu aku sibuk, cukup sibuk untuk melupakan niat awalku “mau resign” itu. Tahu-tahu aku menemukan diriku sudah 2 tahun lebih bekerja di sini.
Life Begins at 40
Pada sebuah webinar self development yang pernah aku ikuti, salah satu topiknya adalah “Life Begins at 40”. Saat itu usiaku 37 atau 38 tahun.
Puber kedua, itulah frasa yang kukenal untuk menggambarkan Life Begins at 40. Jujur, sebelum mengikuti webinar ini aku kira puber kedua artinya manusia akan kembali ‘centil’ seperti muda dulu. Ternyata maknanya tidak sesempit itu. Justru inilah momen yang sering kali menjadi titik balik seseorang. Mungkin karena di usia ini manusia mencapai kematangan berpikir sekaligus masih punya energi untuk produktif. Yang terjadi padaku, banyak hal yang ingin kulakukan, tapi masih bingung dengan apa yang ingin aku capai.
Aku termasuk beruntung, beberapa bulan sebelum usia 40 tahun, aku terjun ke dunia baru. Bayangin, menjadi anak baru di usia ini, sementara seniorku masih 30-an, bahkan 20-an. Di mataku mereka keren banget! Oke, inilah tempat aku belajar sekarang, akan kuserap ilmu dari anak-anak muda ini, sebanyak-banyaknya.

Hidupku terasa berubah. Ada hal lain yang harus kulakukan setiap hari selain peranku sebagai istri dan ibu. Memoriku bertambah dengan hal-hal baru, setelah 10 tahun ‘libur’. Punya kesempatan untuk keluar rumah, bertemu orang-orang baru dan pastinya mendapatkan insights menarik.
Dinamika hidup memang berubah. Di zaman ini kita dituntut untuk lebih kreatif dan pada akhirnya skill yang kita miliki akan membawa ke sebuah tempat di mana skill tersebut bisa digunakan dengan maksimal.
Suatu kali aku bertemu dengan respondenku, beliau seorang profesional di bidang play therapy, dan kami ngobrol cukup banyak. Beliau bilang, aku cocok banget kerja di industri ini. Aku nggak tahu cocoknya di mana, haha. Tapi, ya, aku memang suka sekali menjalaninya karena setiap hari aku selalu menemukan hal baru. Setiap mau mulai bekerja tuh kayak ‘pelajaran apa yang akan aku dapat hari ini?’

Hello Again, World!
Mungkin benar kata respondenku itu, aku cocok di industri ini. Aku memang nggak punya pengalaman sama sekali di bidang riset pasar, tapi tentu aku berpengalaman 10 tahun dalam tugasku sebagai ibu. Aku terbiasa mencari dan menelusuri penyebab anak uring-uringan, sampai memecahkan misteri hilangnya Tupperware, haha!
Jadi, kalau ditanya apakah life really begins at 40? Jawabanku: seratus persen betul. Usia 40 bukan garis akhir di mana kita menjadi layu seiring waktu. Bagiku ini adalah babak baru di mana kita punya mental yang lebih tahan banting dan ego yang lebih kalem. Buat teman-teman yang usianya menjelang kepala empat dan masih ragu untuk mencoba hal baru karena merasa “kelamaan vakum”, percayalah, dunia di luar sana masih menyediakan tempat buat kita. Jangan takut jadi anak baru!
So, hello again world. This is the new me, ready for whatever lessons tomorrow brings!
Follow my instagram @dzulkhulaifah