Kebahagiaan adalah Milik Mereka yang Mau Memperbaiki Diri
Kebahagiaan adalah Milik Mereka yang Mau Memperbaiki Diri – Sebenarnya aku mau cerita singkat aja, karena hari ini akan lumayan sibuk sama kerjaan. Tapiiii, judulnya aja udah serius begini, bisa nggak ya aku nulis 500 kata doang? Hihi. Oke, jadi… aku tuh habis nangis, gengs! Hiks. Nangisin apa, coba? Semua ini gara-gara Netflix!
Aku kan sudah unsubscribe Netflix sejak 2 bulan lalu karena TV aku kok nggak bisa nonton Netflix lagi. Tapi, tiba-tiba ada notifikasi tagihan berhasil dibayar. Lhoooo….?? Ya udah, aku install Netflix lagi di smartphone. Dan muncul lah film “Dua Hati Biru” di beranda. Entah apa yang membuatku langsung klik poster film ini, tahu-tahu aku sudah berlinang air mata ngikutin ceritanya. Huhuhu.
Film Dua Hati Biru adalah lanjutan dari film berjudul “Dua Garis Biru”. Dara yang sebelumnya meninggalkan Bima dan anaknya ke Korea, akhirnya kembali ke Jakarta setelah 4 tahun. Demi bisa lebih dekat dengan keluarga kecilnya, yang selama ini hanya bisa disapa dan ditatapnya dari layar smartphone.
Sejujurnya, aku nggak punya ekspektasi apa pun tentang film ini. Hanya pernah melihat cuplikannya sekali, dalam scene orang tua Bima marah besar karena cucunya sempat hilang. “Oh, paling hanya soal konflik antara menantu dan mertua”, pikirku dangkal. Jadi, kenapa aku bisa se-mellow ini? Sini aku ceritain…
Itu Bukan Mama
Di awal film, keluarga kecil Bima, Dara dan Adam anak mereka, tampak sangat ceria dan harmonis. Sepertinya Adam sudah dibiasakan untuk video call dengan mamanya. Mereka bisa ngobrol dan tertawa lepas, meski berjarak ribuan kilometer. Setelah Dara kembali, kok ya Adam nggak mau dekat-dekat dengan mamanya. Mungkin karena merasa asing, nggak biasa dengan wujud asli ibunya, ya. Sekeras apa pun Dara mencoba, Adam tetap enggan bicara dengannya.
Aku ngebayangin gimana rasanya pisah sama anak sejak anak itu lahir, baru bisa ketemu lagi 4 tahun kemudian dengan harapan bisa kangen-kangenan, ternyata malah dianggap “itu bukan mama” sama Adam. Periiiih banget hatiku, Gengs!
Tapi aku salut banget sih Dara tetap berusaha dengan kesabaran luar biasa, mencurahkan seluruh perhatian dan kasih sayangnya kepada Adam, memperbaiki banyak hal untuk membayar waktu 4 tahun yang hilang itu, sampai Adam akhirnya lengket sama dia. Aku senang banget melihat mereka kembali akrab seperti saat dulu sering video call.
Belajar Parenting
Dara dan Bima menikah di usia yang muda sekali. That’s why mereka belum cukup dewasa menghadapi kehidupan baru sebagai sepasang suami istri, apalagi sekarang sudah menjadi Ibu dan Ayah. Aku bisa ngerasain struggle-nya dari masing-masing pihak. Bima yang hanya lulusan SMA dengan pekerjaan yang belum pasti dan memiliki gaya parenting mengikuti orang tuanya. Sementara Dara kuliah di Korea, lebih open minded dan punya cara yang lebih kekinian dalam hal pengasuhan, misalnya konsultasi ke psikolog anak.
Keduanya sama-sama belajar, tapi dengan perbedaan background membuat semuanya terasa sulit menemukan jalan tengah. Belum lagi ada intervensi dari ibunya Bima, yang menganggap Dara hanyalah ibu baru yang belum tahu bagaimana cara menjadi orang tua. Padahal semua itu butuh proses, bagaimana Dara dan Bima bisa belajar kalau sedikit-sedikit dikoreksi cara pengasuhannya.
Soal parenting di film ini cukup mengurasi emosi, karena Bima tuh susah banget diajakin belajarnya. Sempat di tengah sesi seminar parenting Bima malah main game di handphone-nya. Ya kesel banget lah Dara, sampai rumah mereka berantem. Alasan Bima kenapa nggak nyimak, karena speaker-nya ngomong pakai bahasa Inggris. Jawaban Dara “Makanya kamu belajar bahasa Inggris dong.” Huaaa kan jadi melebar ke mana-mana, ya. Aku kalau jadi Bima juga bingung sih, apa yang mau aku dengerin kalau aku aja nggak ngerti mereka ngomong apa. Tapi konyolnya lagi, Bima juga bilang “Kamu lihat nggak sih tadi, apa ada bapak-bapak lain yang ikut?” Waah, Bima kamu jangan bikin aku naik darah, ya! Belajar parenting bukan cuma buat ibu-ibu aja!!!
Alhamdulillah pada akhirnya baik Dara dan Bima sama-sama saling menurunkan egonya dan belajar menjadi pribadi yang lebih baik. Bima sekarang nggak malu untuk belajar, gara-gara nggak sengaja mendengar materi parenting yang sedang berlangsung di rumah Bu RT dekat tempat tinggalnya, ia mendengar tentang “meminta maaf pada anak” ketika Bima sedang memandikan Adam di lantai 2 rumahnya.
Dara juga nggak yang meledak-ledak lagi, jadinya kan lebih adem gitu ya semua dibicarakan baik-baik. Terus nih, kan sempat terjadi ketegangan antara Dara dengan ibu mertuanya, akhirnya mereka berdamai. Dara baik banget, dengan lapang dada datang ke rumah mertua, mau minta maaf. Tapi nggak disangka, ibunya Bima malah yang minta maaf ke Dara. Luv banget sih aku pas mereka saling memaafkan gini, keduanya mau memperbaiki hubungan dan yes, mereka akhirnya bisa bahagia.
Tidak Ada yang Salah atau Paling Benar
Aku sebenarnya capek banget loh waktu Dara dan Bima terus-terusan berantem. Apalagi Bima akhirnya resign dari pekerjaannya, sementara Dara bekerja lagi dengan penghasilan yang lebih menjanjikan. Apa tidak terluka harga dirinya Bima? Ada satu momen Adam mendengar pertengkaran mereka. Duh, bisa nggak sih ditahan dulu marahnya. Aku kan jadi nangis lagiiii.
Tapi aku juga belajar, dalam rumah tangga kita nggak bisa selalu melihat siapa yang salah, atau siapa yang paling benar. Aku sangat menghargai usahanya Bima, setelah resign dari pekerjaannya, dia mau jualan online sama temannya. Dara juga tidak bersikap superior hanya karena penghasilannya jauh di atas Bima. Mereka sama-sama melakukan itu untuk keluarga, untuk Adam juga.
Dalam rumah tangga dan pengasuhan, mencari yang paling benar atau paling tahu ternyata nggak ada gunanya dan bukan jalan untuk menjadi bahagia. Kita justru bahagia kalau berhenti saling menyalahkan dan fokus dengan apa yang bisa diperbaiki.
Aku Bukan Dara yang Dulu
Satu lagi, ini paling nangis banget. Di salah satu pertengkaran, Bima merasa dirinya bodoh, tidak sepintar istrinya. Karena tawaran Dara untuk membantunya lebih maju dinilai terlalu menyudutkan. Bima merasa, semuanya baik-baik aja ketika Dara masih di Korea dan mereka hanya berkomunikasi lewat video call. Dara yang dulu lebih pengertian dibandingkan Dara yang kini ada di hadapannya.
Dan apa jawaban Dara?
“Dari hari aku ngelahirin Adam, sampai detik ini, aku udah bukan Dara pacar SMA kamu lagi. Aku berkembang, aku tumbuh. Ada atau tanpa kamu, aku mau tetap tumbuh, Bim.”
😭😭😭
Ibu-ibu pasti relate, deh. Sejak menjadi ibu, hidup memang berubah. Identitas bergeser, prioritas berbalik arah dan cara kita memandang hidup tidak akan pernah sama lagi. Tidak ada yang menyadari perubahan tersebut dan kita dituntut untuk berpikir, bertindak atau mengambil keputusan dengan cara yang sama seperti dulu. Kan nggak bisa, yaaa. Tiap hari kita adaptasi, tapi nggak ada yang adaptasi sama perubahan diri kita. Hiks, sedih banget.
Oke, udahan dulu nangisnya, karena film ini memiliki happy ending, di mana semuanya akhirnya mau memperbaiki diri. Sebagai orang dewasa, mari belajar untuk nggak mencari-cari kesalahan pasangan seperti yang aku bilang di atas. Aku juga masih belajar terus soal ini, perasaan nggak lulus-lulus deh. HAHA! Kalau kita bisa fokus dengan apa yang bisa diperbaiki, kita bisa melihat lebih jelas, sebenarnya tujuan kita tuh apa, sih? Kalau memang tujuannya agar anak memiliki pengasuhan, lingkungan dan pendidikan yang baik, mari kita fokus pada hal-hal ini. Kalau ketemu perbedaan pendapat di tengah jalan, bicarakan dengan tenang dan tetap fokus.
Gitu deh yang bisa aku tangkap dari film ini. Kalau menurut kalian gimana, Gengs? Ada yang ikutan mellow dan nangis juga nggak pas nonton film ini? Share di kolom komentar, ya!