Perjalanan ke Sekolah Baru: Momen Berharga yang Hampir Terjeda Keluhan Mata SePeLe
Melihat senyum merekah di wajah anakku sejak bangun tidur sampai waktu terlelap lagi, kukira tidak akan pernah menjadi milikku. Dengan kesabaran tingkat paling serius membangunkan anak untuk sholat subuh, sambil bolak-balik ke dapur masak sarapan dan bekal, kadang disambi cuci baju atau cuci piring. Dari suaraku masih lembut bak ibu peri, sampai mulai meninggi dan terdengar ketus, saking susahnya anak dibangunin. Sementara masakanku kalau ditinggal lama-lama bisa gosong. Itulah gambaran bagaimana pagiku dimulai, setiap hari.
Belum selesai sampai di situ, karena setelah anak berhasil bangkit dari tidur, babak berikutnya adalah keriuhan yang sesungguhnya. Masih ngantuk, lah, nanti dulu sholatnya lah, airnya terlalu dingin untuk mandi, sarapannya nggak suka, dan lain sebagainya, sampai terlambat berangkat, padahal jarak dari rumah ke sekolah hanya 3 menit saja. Hhh… kapan ya anakku bisa semangat menyambut hari-hari belajar di sekolah? Apa yang salah, ya?

Pindah Sekolah
Setelah berbagai cara dilakukan dan melalui banyak pertimbangan, kami memutuskan untuk pindah sekolah, meskipun anakku sudah kelas 6. Tinggal setahun lagi, lho, kok nekad banget pindah sekolah. Apa nggak bisa sabar dulu setahun ke depan?
Tidak ada kata tanggung bagiku, jika itu menyangkut kebahagiaan anak menjalani pendidikannya. Kamu bisa baca cerita tentang pindah sekolah yang sudah aku tulis sebelumnya.
Alhamdulillah, hari yang kurindukan akhirnya datang. Pagi hari tak lagi melelahkan seperti biasanya. Anakku bisa bangun sendiri, sholat dan mandi tanpa disuruh. Ia tetap melaksanakan sholat dhuha seperti yang sudah dibiasakan di sekolah lama. Persiapan bekal dan sarapan pun berjalan smooth. Aku tidak lagi terburu-buru dan bisa masak dengan lebih mindful. Waktu terasa lebih panjang, karena memang jam masuk sekolah yang sekarang tidak sepagi itu. Sehingga kami masih punya banyak waktu setelah sarapan. Untuk ngobrol, cerita, me-review pelajaran kemarin, atau membahas materi hari ini.

Di Balik Tenangnya Pagi, Ada Kesibukan yang Menanti
Jadwal sekolah yang agak berbeda dari sekolah lain, membuatku tidak sesibuk ibu-ibu pada umumnya di minggu pertama untuk urusan sekolah anak. Tapi sebagai ibu bekerja, jujur aja jadwalku lagi padat-padatnya. Karena di minggu pertama itu aku sedang persiapan event besar yang akan berlangsung dalam beberapa hari ke depan.
Aku bekerja di sebuah market research agency dan sedang mengerjakan studi riset yang melibatkan 100+ responden. Persiapan ini membutuhkan setidaknya 6-7 jam sehari menatap layar dalam sebulan terakhir, termasuk weekend. Bayangkan betapa capeknya kedua mataku ini.
Sekalinya jeda, ketemunya sama matahari jam 1 siang, saat aku menjemput anakku di sekolah. Sudah pakai kacamata hitam dan helm pun tetap tembus panasnya. Seminggu pertama sekolah, benar-benar melelahkan bagi mataku karena masih penyesuaian setelah libur panjang. Puncaknya, ketika aku harus cek venue untuk event minggu depan. Pagi itu aku ke sekolah dulu karena ada parents briefing. Setelahnya langsung naik bus menuju Blok M untuk ketemu sama vendor dan klien. Whoaaa! Panasnya luar biasa negara Blok M ini.

Beberapa kali aku harus keluar masuk kafe karena vendor dan klien meeting-nya terpisah, survei lokasi sampai booking resto untuk dinner. Jam 4 sore urusanku selesai dan bersiap untuk pulang. Di perjalanan menuju halte TransJakarta, aku mampir sebentar membeli camilan, oleh-oleh buat anakku. Aku pakai QRIS, kan. Pas lagi scan QR code kok mataku burem banget, huhu. Saking mata SEpet, PErih, dan LElah, sampai aku nggak jelas lihat layar handphone.
Apakah mataku mulai protes? Asli kering banget kayak orang baru bangun tidur dan lelah seperti habis marathon drakor 16 episode! Sepertinya indra penglihatanku ini kewalahan karena intensitas keluar masuk ruangan ber-AC dingin dan di luar harus menghadapi suhu udara yang luar biasa panasnya.
Gejala Mata SePeLe
Tolong!! Gejala mata SePeLe ini nggak boleh berlanjut. Karena SePeLe yang ini berarti SEpet, PErih dan LElah. Masalahnya, sampai di rumah nanti aku harus melanjutkan pekerjaanku di depan laptop. Tapi gimana, yaa. Kayaknya nggak bisa banget nih untuk menatap layar dulu. Karena mataku tidak bekerja dengan maksimal, pandangan buram dan ujung-ujungnya jadi sakit kepala. Biarlah semalaman aku istirahat dulu. Meskipun otakku berisik mikirin pekerjaan yang tertunda.
Bagaimana aku nggak kepikiran? Event-nya tinggal 4 hari lagi, tapi masih banyak banget yang harus kukerjakan dengan laptopku. Tapi kalau aku paksakan, rasanya juga nggak mungkin. Hhh… niat mau istirahat, malah perang batin.
Setiap kali mengalami masalah pada mata, sebelum menjadi serius aku biasanya melakukan pencegahan dengan menggunakan tetes mata. Yang paling sering dan nyaman kugunakan adalah merek Insto. Entah mengapa, tapi merek ini memang familiar banget dan sudah aku kenal sejak kecil. Suatu pagi aku mencari Insto di Indomaret, sekalian anakku mau beli roti buat sarapan. Dan akhirnya beli 2 botol INSTO DRY EYES yang memang khusus untuk masalah mata SEpet, PErih dan LElah.
INSTO DRY EYES Mengatasi Gejala Mata SEpet, PErih dan LElah
Mata kering itu rasanya gimana, sih? Coba deh kalau kamu baru bangun tidur terus langsung melihat sinar lampu. Pasti silau dan mata sulit terbuka, kan? Kayak maunya dimeremin dulu sampai siap banget untuk membuka mata dengan lebih lancar, nggak sepet. Kalau hal ini terjadi dalam kondisi kamu sedang beraktivitas biasa, bukan baru bangun tidur, tentunya mengganggu banget, dong. Itulah gejala mata kering atau kamu kekurangan air mata.
Kamu tahu nggak, sekarang Insto punya produk khusus untuk mengatasi mata kering, dengan gejala SePeLe atau SEpet, PErih dan LElah? Nama variannya adalah INSTO DRY EYES.
INSTO DRY EYES mengandung bahan utama Hydroxypropyl methylcellulose 3,0 mg dalam setiap mL larutan isotonik sterilnya. Kata lainnya adalah Hipromelosa, berfungsi seperti air mata buatan yang meniru air mata manusia. Bisa dibilang sebagai pelumas mata agar saat berkedip nggak sepet. Pelumas ini membuat mata lembap yang dipertahankan dengan bantuan Glycerol. Sedangkan Sodium Chloride menjadikan cairannya menjadi mirip dengan air mata asli.

Review dari aku, saat pakai INSTO DRY EYES pada mata SEpet, PErih dan LElah, rasanya tuh nggak perih sama sekali. Dia nggak memberikan efek yang terlalu sejuk, tapi nyaman digunakan. Aku pakai 1 tetes di setiap mata, setelah itu kedip-kedip beberapa kali dan aku biarkan sebentar mataku terpejam. Hasilnya mataku tidak lagi kering dan benar-benar seperti memproduksi air mata alami.
Alhamdulillah sejak pakai INSTO DRY EYES aku nggak lagi terlalu kesulitan menjalani hari-hariku di depan laptop dan terutama mau menggelar ‘hajatan’ nih.
Momen Lebih Dekat dengan Anak
Hajatan yang kumaksud tentu saja hari di mana event besar yang aku dan teman-temanku persiapkan sebulan ini akhirnya dilaksanakan. Setelah acaranya selesai, aku mengambil cuti panjang. Yaaey!!

Cutiku ini bukan untuk pergi liburan ke suatu tempat. Tapi untuk menikmati pagiku yang damai, lebih memilih masak daripada pesan makanan online, baca buku, beres-beres rumah dan tentu saja ingin membuat kenangan baru bersama anakku dengan momen-momen berharga. Kami jalan-jalan melihat mobil antik kesukaan anakku, jajan es krim, makan malam di luar, sampai random ke mall untuk sewa kursi pijat. Haha.

Beberapa hari lalu saat aku mengantar sekolah, anakku minta lewat rute yang lebih jauh 2 menit. “Kenapa nggak lewat belakang aja, kan lebih cepat?” tanyaku. Tapi dia tetap ingin lewat rute yang dia mau. Katanya ingin bisa lebih lama naik motor sama mami. Coba kamu jadi aku, apa nggak terharu?
That’s why, menjemput sekolah adalah aktivitas favoritku. Rasanya sama seperti menjemput anak TK. Ibu-ibu tentu ingat, bagaimana rasanya ketika anak balita kita mulai sekolah, rumah terasa sepi, lalu beberapa jam kemudian kita dengan perasaan membuncah, menyambutnya di gerbang sekolah. Seperti itulah perasaanku kini. Apalagi melihat senyumnya yang sumringah, menandakan harinya berjalan menyenangkan.
Sejak anakku menyembulkan kepalanya dari pintu lobby, sejak itu pula kalimat demi kalimat ceritanya terus mengalir, sepanjang jalan, meski terik, sampai kami tiba di rumah. Buatku, tidak ada yang lebih berharga dari momen ketika anakku bahagia menjalani sekolah. Seperti doaku selama ini, agar ia jadi anak yang suka belajar, mencintai ilmu dan mengamalkannya.
Dulu mungkin momen seperti ini bisa saja terlewat karena aku sibuk dengan mataku yang perih saat perjalanan. Tapi sekarang, aku nggak khawatir lagi. Selain menggunakan perlindungan ekstra seperti kacamata dan helm, aku selalu sedia andalanku #InstoDryEyes di saku tas. Urusan kesehatan mata itu #MataSePeLeJanganSepelein, makanya selalu pastikan mata kita #BebasMataKering agar momen berharga bareng anak nggak lagi terjeda.
Terima kasih sudah membaca ceritaku. Semoga kamu juga memiliki momen berharga bersama orang-orang terdekatmu :)