fbpx
Travel & Culinary

Pulau Ubin yang Memenangkan Hatiku

Pagi itu aku sarapan di sebelah kolam renang hotel tempatku menginap. Kursi yang hendak aku duduki agak sedikit basah, karena kemarin hujan terus-menerus. Menu yang kusantap adalah mie instan cup rasa soto ditambah sedikit nasi dan ayam goreng, sisa lauk kemarin. Temanku, Mardiah, memilih jenis mie goreng, karena tadi malam dia sudah makan duluan yang rasa sotonya.

Selesai sarapan, kami pindah ke hotel lain yang jaraknya hanya sekitar 300 meter dari hotel yang sekarang. Karena belum waktunya check-in, kami hanya menitipkan barang-barang di lobby hotel tersebut, sebelum berangkat ke Pulau Ubin.

Sekujur kakiku masih terasa sakit karena tadi malam terlalu asyik mengayuh sepeda di tengah hujan selama 2 jam. Tapi apa yang akan kuhadapi hari ini sungguh mengalihkan perhatianku. Aku menyusuri Weld Road, Arab Street dan berbelok ke Victoria Street dengan perasaan berdebar. Akan seseru apa petualanganku hari ini?

Bus nomor 2 tujuan Changi Village yang kutunggu di halte Opp Blk 461 itu membawa debar jantungku sejauh 20 kilometer lebih sampai ke Changi Village Terminal. Dari sana kami berjalan dengan kecepatan di atas rata-rata menuju Changi Point Ferry Terminal, agar tak tertinggal kapal kecil yang sedang menanti untuk menyeberangkan kami ke Pulau Ubin. Sebuah pulau di perairan timur laut Singapura yang baru kali ini aku dengar namanya.

pulau ubin

Uang kertas sejumlah SGD 4 berpindah tangan kepada kapten kapal, tak lama setelah aku duduk di dalam kapal bersama beberapa penumpang lainnya. Lalu kapal pun berangkat dan hanya butuh waktu sekitar 10 menit untuk tiba di Pulau Ubin. 

Selamat Datang di Pulau Ubin

Aku sebenarnya penasaran, mengapa disebut Pulau Ubin dan bukan Ubin Island? Padahal pulau ini merupakan bagian dari Singapura. Entahlah, mungkin zaman dahulu kala pulau ini dihuni oleh bangsa Melayu. Secara geografis pun, letaknya memang sangat dekat dengan Malaysia. 

Kakiku yang sakitnya mulai tak kurasakan lagi, menjejak di tanah Pulau Ubin. Udara hari itu cukup teduh karena masih musim hujan. Angin laut bertiup lembut mengibaskan ujung kerudungku. Mataku mulai mencari-cari, dengan perahu yang mana aku akan melakukan aktivitas menyenangkan hari ini?

pulau ubin

“Hey, you! Ladies!” Seseorang memanggil kami. Beliau mengenakan sejenis pakaian renang berwarna hitam. Aku dan Mardiah sontak menoleh ke arah suara. Ah, itu dia! Pria itu bernama Yong Kelvin, seorang Kayak Coach yang akan memandu kami mengitari Pulau Ubin menggunakan perahu kayak. Sebelum aktivitas dimulai, kami mengobrol sebentar sambil minum teh di sebuah kedai makanan. Obrolan singkat yang membangun chemistry.

“Please walk around first to have a look, before we start the journey.” said the guide.

Ukuran Pulau Ubin hanya seluas 10 km persegi atau sekitar 1.000 hektare, dengan populasi 1.000 penduduk. Di sepanjang jalan kecil yang tak jauh dari garis pantai, aku menemukan berbagai rumah makan, rental sepeda dan sebuah kuil. Kalau aku tidak salah, hanya ada 2 toilet umum di pulau ini. Salah satunya berada di sebelah galeri yang tidak jauh dari dermaga.

pulau ubin

Galeri yang kumaksud adalah Nature Gallery. Sebuah galeri yang berisi informasi tentang alam dan satwa yang hidup di Pulau Ubin. Galeri ini bisa terlihat dari dermaga, dengan bingkai berupa gapura kayu bertuliskan “Welcome to Pulau Ubin”.

pulau ubin

Pengalaman Pertamaku Kayaking

Kamu sudah pernah naik perahu Kayak? Bagiku ini pertama kalinya, maka aku simak dengan seksama briefing yang disampaikan oleh coach dari Adventures by Asian Detours ini. 

“Can you swim?” asked the coach. “Yes, I can.” kataku dengan percaya diri. Kalau kamu mau tahu, adventure ini adalah salah satu motivasiku untuk belajar renang, karena aku ingin menikmati perjalanananku tanpa harus merasa takut ketika berada di permukaan air. Meski aku tahu, petualangan ini sangat aman dan tidak akan membuatku sampai harus berenang.

Setelah briefing, kami dipersilakan berganti pakaian di ruang ganti yang berada di belakang gedung. Jangan bayangkan ruang ganti yang nyaman, karena sebenarnya itu hanyalah bilik-bilik tanpa atap di tengah hutan. Kami juga harus mengenakan sepatu khusus untuk Kayak. Tidak ada sepatu yang ukurannya sesuai dengan kakiku. Hanya ada yang kekecilan dan kebesaran. Kata coach, “The bigger one is better.” 

pulau ubin

Berikutnya, mataku terpana melihat puluhan perahu yang berjajar rapi, tanpa aku tahu bagaimana caranya perahu ini bisa sampai ke air. Sambil mengencangkan rompi pelampung yang harus kukenakan, aku penasaran, di mana alat yang bisa membawa perahu ini sampai ke tepi pantai?

Ok, latihan dimulai. Kukira akan latihan memegang dayung dulu. Ternyata latihan pertama adalah mengangkat perahu. Iya, mengangkat perahu yang panjangnya hampir 3 meter itu. Jangan tanya beratnya seperti apa. Setelah coach menilai bahwa kami bertiga bisa menggotongnya bersama-sama, langsung lah saat itu juga kami harus berjalan sekitar 100 meter menuju pantai. Bukan hal mudah membawa perahu ini, ditambah sepatuku kebesaran pula. Baru setengah jalan aku sudah minta izin untuk tukar posisi. Masya Allah, berat.  😅

Hatiku bersorak ketika kami tiba di bibir pantai, meski lenganku sudah kadung pegal luar biasa. Kami dorong perahu sampai ke air dan kini saatnya naik ke perahu. Caranya, kami harus berdiri membelakangi perahu lalu pelan-pelan duduk dan segera menghadap ke depan. It’s quite easy. 

Setelah itu coach mengajarkan cara memegang dan menggerakkan dayung. Dayung untuk Kayak adalah jenis dayung 2 sisi. Di bagian tengahnya ada bantalan karet untuk pegangan. Bantalan ini bisa diatur jaraknya, karena setiap orang memiliki jarak yang berbeda antara tangan kanan dan kiri. Untuk posisi yang lebih nyaman, disarankan tangan terbuka sejajar dengan bahu. Usahakan tangan kanan masuk ke air ketika mendayung ke kanan, begitu pula saat mendayung ke kiri, tangan kiri harus masuk ke air, bertujuan agar lengan tidak mudah lelah.

Yang harus diperhatikan, saat mendayung ke kanan, maka perahu akan mengarah ke kiri. Begitu pula sebaliknya. Kalau mau lurus, gimana? Dayung secara bergantian ke kanan dan kiri. Bila ingin berhenti, tahan dayung di air. Untuk mundur, dayung ke arah terbalik.

Tanpa terasa pelajaran mendayung ini telah mengantarkan kami agak jauh dari bibir pantai. Dan akhirnya kami siap menyusuri hutan mangrove yang ada di Pulau Ubin. Bismillah.

pulau ubin

Sejarah dan Wisata Pulau Ubin

Coach selalu mendampingi tidak jauh dari perahu kami. Misiku hari itu adalah menyelesaikan trip dengan selamat dan menyenangkan. Jadi aku sangat menurut dengan aba-aba dan peringatan yang coach berikan. Aku tidak terlalu ingat sejauh mana aku mendayung, tapi aku masih ingat suasana yang kulihat, udara yang kurasakan dan suara yang kudengar.

Sepertinya dari pantai kami menuju ke sungai buatan bernama Sungai Jelutong. Langit memang tidak terlalu cerah, tapi mataharinya hangat. Cukup hangat untuk membakar kulitku. Sepanjang sungai yang kulihat adalah pepohonan hutan bakau yang menguarkan wewangian kayu dan dedaunan bercampur dengan aroma air laut. Kadang muncul satwa liar dari balik pohon, seperti monyet, burung, ayam sampai elang. 

pulau ubin

Seekor elang yang memiliki lebar 1,5 meter melesat jauh ke langit, terbang dengan anggunnya di atas pulau. “It was a female eagle”, said the coach. Tak berapa lama kemudian, elang dengan ukuran yang lebih kecil juga muncul memamerkan keahlian terbangnya. Kalau itu, pasti elang jantan. Dan seekor hewan air pun tak mau kalah. Ia menyembulkan kepala hingga terlihat matanya yang berkedip-kedip. Sayangnya aku lupa, itu hewan apa. Entah kadal laut atau jenis yang lainnya.

Bebunyian dari pohon yang tertiup angin, seruan satwa hutan dan percikan air dari dayungku, terdengar seperti nyanyian alam. Rasanya aku ingin mengenang momen ini dalam waktu yang lamaaa sekali. 

Lalu sebuah kapal melintas, membuat gelombang yang cukup besar menghampiri perahuku. Di saat seperti itu yang harus kami lakukan adalah berhenti mendayung dan tetap tenang sampai gelombang mereda. Coach melambaikan tangan kepada kapten kapal, yang disambut dengan sapaan hangat dan bersemangat. Kata coach, beliau tidak kenal siapa orang itu. “That’s the marine courtesy. I am nice, kind and give help to other people. One day I need help, they will do the same.” Aku tersentuh dibuatnya.

Sambil terus mendayung, coach menceritakan sejarah Pulau Ubin yang dulunya dikenal sebagai Pulau Jubin ini. Pulau Jubin menurut bahasa Melayu artinya Pulau Batu Granit, karena di sini memang merupakan tambang granit pada tahun 1960-an sampai dengan tahun 1999. Bisa dibilang pulau ini adalah awal peradaban Singapura, sekarang menjadi pulau terakhir yang dilestarikan sebagai sebuah kampung.

Ternyata Pulau Ubin menawarkan banyak cara untuk menikmati liburan yang jauh dari perkotaan. Selain Kayak dan Sepeda, di pulau ini pengunjung bisa camping di Jelutong Campsite yang ada di sebelah barat dermaga. Ada satu lagi perkemahan bernama Maman Campsite yang letaknya lebih jauh ke arah barat.

Wisata lain yang ada di pulau ini terdiri dari wisata edukasi seperti Ubin Living Lab, Butterfly Hill dan Ubin Fruit Orchard. Pengunjung juga bisa menikmati matahari terbenam di Chek Jawa Wetlands. Tapi aku tidak bisa sampai malam di sini karena tidak ada ada penyeberangan malam hari untuk kembali ke kota. Sementara esoknya aku harus kembali ke Jakarta.

Singapore: Small, Safe and Easy

“Do you know Beach Road?” Tanya coach dalam perjalanan kami kembali ke pantai. “That was the beginning of the coastline in Singapore.” lanjutnya. Wah! Ini pengetahuan baru bagiku. Singapura memang melakukan reklamasi. Tempat kamu biasa belanja dan jalan-jalan bisa jadi dulunya adalah lautan.

Karena ukurannya yang kecil, Singapura memanfaatkan setiap space yang ada untuk sesuatu yang berguna. Salah satunya tambak ikan yang ada di dekat Pulau Ubin. Ikan-ikan untuk dikonsumsi warga Singapura dibudidayakan di sini. Ikan berukuran kecil untuk dijual di supermarket, sementara yang ukurannya besar dijual ke restoran.

pulau ubin

Meskipun negara ini sangat kecil, tapi puluhan juta wisatawan tertarik untuk datang tiap tahunnya. Jangankan para traveler, aku yang bukan siapa-siapa ini pun sudah beberapa kali berkunjung, padahal biaya hidupnya mahal. Daya tariknya begitu tinggi. Objek wisatanya lengkap, negaranya bersih, semua serba teratur, warganya tertib dan mandiri, dan satu lagi yang paling aku suka, yaitu aman.

Sering kita lihat anak-anak sekolah dasar di Singapura pergi dan pulang sekolah naik bus atau MRT, tanpa diantar oleh orang tuanya. Karena sejak usia 7 tahun mereka memang sudah dibiasakan mandiri, didukung dengan keamanan lingkungan yang sangat baik. 

Ada cerita menarik dari coach berhubungan dengan keamanan ini. Saat masih SMP, coach pulang sekolah terlambat. Ia berjalan sendirian di malam hari lalu sebuah mobil patroli menghampirinya. Seorang polisi turun dan bertanya, “Kamu mau ke mana?” coach menjelaskan bahwa dirinya hendak pulang ke rumah. “Boleh kami antar?” kata polisi itu, karena merasa keamanan seorang anak SMP tersebut adalah tanggung jawabnya. Jika terjadi sesuatu pada anak ini, maka polisi nanti yang akan disalahkan.

Coach menambahkan satu hal lagi yang menjadi keunggulan Singapura, yaitu segala kemudahannya. Rakyat Singapura sangat memanfaatkan teknologi dengan baik dan tertib. Maka apa pun yang menjadi kebijakan pemerintah terkait penerapan teknologi baru, akan dijalani dengan sebagaimana mestinya. Kemudahan ini pun turut dirasakan oleh wisatawan.

“Singapore: small, save and easy.” kata coach menutup pembicaraan sebelum kami harus segera tiba ke tempat semula, karena langit sudah mulai gelap. Khawatir hujan dan banyak angin jika kami tak segera kembali.

Aaahh… aku suka sekali Kayaking di Pulau Ubin.

pulau ubin

Buying Experience

Semua biaya yang aku keluarkan untuk liburan ini adalah untuk membeli pengalaman. Dengan biaya SGD 86 atau sekitar 1 jutaan untuk Kayak Adventure, aku bisa dapat pengalaman semenarik ini. Coach atau guide berpengalaman dan bersertifikasi dari Adventures by Asian Detours, pengalaman mendayung selama kurang lebih 3 jam sampai jariku lecet, bisa melihat elang di alam bebas, dan semua pelajaran yang kudapat dari petualangan ini. Pulau Ubin benar-benar telah memenangkan hatiku. Inilah jawaban yang kudapat dari debaran jantungku yang tak menentu tadi pagi.

Alhamdulillah, aku bersyukur dengan kesempatan ini. Terima kasih Mardiah, sudah membawaku ke Pulau Ubin. Semoga di lain waktu aku bisa membeli pengalaman lainnya.

pulau ubin

Author

dzul_rahmat@yahoo.com
Mindful Parenting Blogger || dzul.rahmat@gmail.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *